Kamis, 14 Juli 2011




Kurang dari sebulan lagi kita akan segera masuk ke bulan Ramadhan lagi. Sekedar mengingatkan saja, bahwa bila punya hutang puasa di tahun lalu, segera lah bayarkan hutang itu, sebelum jatuh Ramadhan tahun ini. Bayar hutang puasa itu disebut juga dengan puasa Qadha', yang hukumnya termasuk puasa wajib.

Ketika seseorang meninggalkan kewajiban ibadah puasa, maka ada konsekuensi yang harus dikerjakan. Konskuensi itu merupakan resiko yang harus ditanggung karena meninggalkan kewajiban puasa yang telah ditetapkan.

Adapun bentuknya, ada beberapa macam, di antaranya adalah qadha' (mengganti puasa di hari lain), membayar fidyah (memberi makan fakir miskin) dan membayar kaffarah (denda). Masing-masing bentuk itu harus dikerjakan sesuai dengan alasan tidak puasanya.

Pada bab ini kita akan secara khusus membahas tentang masalah qadha' puasa.


Assalaamu'alaikum Wr. Wb.

Ustadz yang insya Allah dirahmati Allah SWT.
Saya mau menanyakan tentang:

1. Bagaimana kondisi aqidah kita sementara kita hidup di negara yang tidak memakai hukum Allah? Saya pernah mendengar ceramah seorang da'i yang menyampaikan ayat "barang siapa yang memutuskan hukum, tidak memakai apa yang Allah turunkan (Al-Quran) maka mereka termasuk orang-orang yang kafir.
2. Apa upaya kita, supaya kita terhindar dari ayat Allah tersebut?

jawaban

Asalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Tidak memutuskan perkara dengan hukum Allah akan mengakibatkan kekafiran. Memang demikian salah bunyi ayat Allah di dalam surat Al-Maidah ayat 44. Lengkapnya begini:



Barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang kafir. (Al-Maidah: 44)

Kamis, 30 Juni 2011

 

Amalan Nisfu Syaban

Assalamualaikum.
Ustadz, mohon bantuan penjelesannya mengenai nisfu syaban. Apakah sebenarnya nisfu syaban itu, dan apakah benar pada malam itu disunatkan melakukan amalan/ibadah tertentu? Bagaimanakah hukumnya meyakini hal ini? Saya akan sangat bersyukur sekali bila ustadz dapat segera menjawab pertanyaan saya ini. Terima kasih.
Salaam,

jawaban

Assalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Memang benar bahwa secara umum bulan Sya’ban punya kekhususan tersendiri. Keterangan itu kita dapat dari hadits-hadits yang shahih, yang merupakan keterangan valid dari Rasulullah SAW.


1. Amal Hamba Diangkat ke Langit

Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Sya'ban merupakan bulan di mana amal shalih setiap hamba akan diangkat ke langit.

Salah satu dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW berkut ini:
Dari Usamah bin Zaid berkata, saya bertanya, “Wahai Rasulullah saw, saya tidak melihat engkau puasa di suatu bulan lebih banyak melebihi bulan Sya’ban.” Rasul saw bersabda, "Bulan tersebut banyak dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan diangkat amal-amal kepada Rabb alam semesta, maka saya suka amal saya diangkat sedang saya dalam kondisi puasa.” (HR Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Huzaimah)

Islam turun sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, sebagaimana yang disebutkan Allah Taala kepada Rasulullah saw.
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

Dengan misi yang sangat mulia itulah, dapat dipahami bahwa syariat Islam akan memberikan perhatian yang sangat tinggi terhadap  segala hal yang terkait dengan tindakan-tindakan yang akan membuahkan hasil berupa rahmatan lil ‘alamin.
Sebagai salah satu dari implementasi misi rahmatan lil ‘alamin Islam sangat memperhatikan pola hubungan antar manusia (mu‘amalah insaniyah).

Dalam makalah yang ringkas ini, akan dibahas bagaimana Islam memerintahkan umatnya untuk memuliakan keluarga sebagai bagian dari upaya mewujudkan tata kehidupan sosial yang penuh dengan kedamaian dan sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Memuliakan Keluarga

    Blogger news

    Blogroll

    Pages

    About